Membangun Masa Depan Berkelanjutan di Bangka Barat



Ilustrasi

Strategi Akselerasi Infrastruktur Berkualitas untuk Bangka Barat yang Maju dan Berkelanjutan (Part 1)

Kabupaten Bangka Barat memegang peranan geopolitik dan ekonomi yang sangat strategis sebagai pintu gerbang utama Pulau Bangka di bagian barat. Posisi geografis yang berhadapan langsung dengan Selat Bangka dan daratan Sumatera menjadikan wilayah ini simpul utama konektivitas logistik, perdagangan, dan mobilitas penduduk antar-pulau. Dalam kerangka perencanaan pembangunan jangka menengah daerah, penyediaan infrastruktur yang andal, berkelanjutan, dan berdaya saing menjadi fondasi mutlak untuk mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara merata.


Guna mengatasi penyumbatan arus transportasi (bottleneck) tersebut, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, dan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menginisiasi pembangunan Dermaga II Pelabuhan Tanjung Kalian. Proyek infrastruktur senilai Rp 60 miliar ini dikerjakan oleh PT Nindya Karya dan dirancang khusus untuk menambah kapasitas sandar kapal penyeberangan. Penambahan dermaga baru ini berfungsi mempercepat waktu bongkar muat (turnaround time), meningkatkan keselamatan pelayaran, serta memberikan kepastian waktu tempuh bagi distribusi logistik antar-provinsi.


Di samping Pelabuhan Tanjung Kalian yang berfokus pada angkutan penyeberangan penumpang dan kendaraan, sektor logistik maritim daerah ditingkatkan melalui optimalisasi Pelabuhan Tanjung Ular di Mentok. Pelabuhan yang dibangun menggunakan alokasi APBN sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) ini telah diuji standar teknisnya, namun kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) belum optimal. Pemkab Bangka Barat melakukan restrukturisasi pola pengelolaan pelabuhan melalui pengajuan peran BUMD lokal serta menjalin kemitraan strategis dengan PT Pertamina untuk mengoperasikan fasilitas penampungan dan depot Bahan Bakar Minyak (BBM). Integrasi operasional antara Tanjung Kalian sebagai simpul penyeberangan cepat dan Tanjung Ular sebagai pelabuhan kargo niaga memperkuat ketahanan logistik Bangka Barat.



Untuk menangani krisis pasokan air yang berulang setiap siklus kemarau, Pemkab Bangka Barat dan Perumdam Tirta Sejiran Setason menjalankan strategi penanganan terpadu. Langkah prioritas dilakukan melalui kegiatan normalisasi dan perluasan penampungan aliran Sungai Puput di Mentok sepanjang 50 meter dengan lebar 10 meter. Normalisasi ini bertujuan meningkatkan penangkapan air permukaan sehingga debit intake air baku melonjak dari 15 liter per detik menjadi 25 liter per detik. Selain itu, pengerukan sedimentasi pada kolong-kolong eksis dan eksplorasi sumur bor dalam (deep well) terus dilakukan guna menambah cadangan air minum daerah.


Upaya pemenuhan cakupan layanan juga diperkuat melalui penerimaan hibah aset infrastruktur SPAM dari Pemerintah Pusat. Rehabilitasi SPAM IKK Jebus dengan kapasitas 10 liter per detik kini mampu menjangkau 240 unit sambungan rumah baru. Di sisi inovasi layanan publik, Perumdam Tirta Sejiran Setason bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (eks LIPI) menghadirkan fasilitas keran air bersih siap minum (tap water) berbasis teknologi filtrasi canggih di titik-titik strategis seperti tempat ibadah dan sekolah. Perumdam juga menyiapkan rencana diversifikasi bisnis melalui produksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) skala daerah untuk meningkatkan kemandirian finansial perusahaan.





Berikan Komentar

Silakan tulis komentar dalam formulir berikut ini (Gunakan bahasa yang santun). Komentar akan ditampilkan setelah disetujui oleh Admin